pH air yang tidak stabil membuat toman (Channa micropeltes) mudah stress, nafsu makan turun, dan rentan infeksi. Ikan gabus ini sebenarnya toleran terhadap pH 6,0–8,0, tetapi masalah muncul saat nilainya bergerak naik-turun lebih dari 0,5 poin dalam sehari. Karena itu, menjaga pH tetap di kisaran 6,5–7,5 jauh lebih penting daripada mengejar angka ideal semata.

Kenapa pH Berfluktuasi di Kolam, Tambak, dan Keramba

Di kolam tanah, fluktuasi biasanya dipicu aktivitas fitoplankton: pH terendah terjadi menjelang pagi dan tertinggi sore hari akibat fotosintesis. Di tambak, tanah dasar yang mengandung pirit (FeS2) bisa menurunkan pH drastis hingga di bawah 5 saat teroksidasi. Sementara di keramba, pH lebih ditentukan oleh kualitas perairan induk, sehingga sumber masalahnya ada di luar kendali kita.

  • Kolam tanah: pH pagi dan sore bisa berbeda 0,5–1,5 poin bila bloom alga terlalu padat.
  • Tambak bekas mangrove: risiko pH anjlok setelah hujan atau pengeringan dasar.
  • Keramba di sungai/waduk: pH mengikuti arus, waspadai limpas air asam dari lahan sekitar.

Langkah Praktis Menstabilkan pH

Ukur pH minimal dua kali sehari—pukul 06.00 dan 15.00—memakai pH meter yang dikalibrasi, bukan kertas lakmus. Jika selisih pagi-sore lebih dari 1 poin, kurangi kepadatan fitoplankton dengan mengganti 20–30% air atau memberi aerasi tambahan agar CO2 terlepas merata.

Menurunkan pH (bila > 8,0)

  • Ganti 20–30% air dengan sumber bersih ber-pH lebih rendah.
  • Tambahkan molase 5–10 ml per m³ untuk mendorong pertumbuhan bakteri yang memproduksi CO2.
  • Hindari kapur dolomit saat pH sedang tinggi.

Menaikkan pH (bila < 6,0)

  • Tabur kapur pertanian (CaCO3) 100–200 g per m² pada kolam tanah, aplikasikan pagi hari.
  • Untuk tambak ber-pirit, lakukan pengapuran dasar 1–2 ton/ha sebelum pengisian air.
  • Jaga alkalinitas 80–150 ppm agar pH tidak mudah goyah.

Aerasi dan Manajemen Kualitas Air Pendukung

Aerasi bukan sekadar pemasok oksigen. Aerator yang hidup 24 jam membantu melepaskan CO2 berlebih sehingga fluktuasi pH malam hari tidak ekstrem. Padat tebar ideal toman di kolam adalah 5–10 ekor per m² untuk pembesaran, sedangkan di keramba 20–40 ekor per m³ dengan arus minimal 0,2 m/detik. Semakin tinggi padat tebar, semakin besar produksi CO2 dan amonia, sehingga aerasi serta pergantian air 10–20% per hari menjadi wajib.

  • Cek amonia (< 0,5 ppm) dan nitrit (< 0,3 ppm) bersamaan dengan pH.
  • Aktifkan aerator paling lambat pukul 22.00 hingga 06.00 saat pH cenderung turun.
  • Hindari pemberian pakan berlebih—sisa pakan menurunkan pH lewat pembusukan.

Kesimpulannya, kunci mengatur pH kolam toman bukan pada angka tunggal, melainkan pada stabilitas harian. Rutin mengukur pagi-sore, menjaga alkalinitas, mengoptimalkan aerasi, dan menyesuaikan padat tebar akan menekan stress ikan sekaligus mempercepat pertumbuhan.